sejak lama saya ingin bisa mencurahkan segala pikiran saya tentang cita-cita, tapi waktu lah yang belum mengizinkan dan mudah-mudahan saat ini saya telah merampungkannya.
Begini, ketika saya bersekolah di salah satu sekolah dasar di kawasan Pluit Mas, saya memiliki cita-cita menjadi seorang guru. Ya, mungkin terdengar biasa saja. tapi menurut saya sangat luar biasa, karena tugas guru sebenarnya tersirat bukan tersurat. Dia memiliki tanggung jawab yang besar terhadap murid-muridnya. Kalau bercerita soal tanggungjawab saya jadi teringat dengan salah satu dosen yang mengajar saya yang menyimpulkan bahwa jika muridnya gagal maka yang lebih gagal adalah guru tersebut karena belum bisa memberikan ilmu kepada murid tersebut yang membuat murid gagal. Guru jangan pelit dalam memberikan ilmu, guru yang baik adalah guru yang kehilangan ilmunya demi kepintaran muridnya. Kehilangan ilmu disini yakni berbagi ilmu yang selama ini didapatkannnya melalui pendidikan yang telah dilalui. Kemungkinan itu ada, tetapi banyak kemungkinan lain juga yang muncul misalnya dari murid itu sendiri, bagaimana murid tersebut memahami atau menelaah suatu ilmu yang diberikan.
Mungkin kedua orang tua saya yang mewarisi keinginan saya untuk menjadi guru tetapi seperti memang ada bakat atau jiwa untuk mengajar. Ketika itu saya sering mengajari teman-teman atau bisa disebut kerja kelompok. Saling membantu dan saling berbagi ilmu. Pelajaran yang paling saya sukai Bahasa Mandarin. Ya, sekolah dasar saya dulu lumayan terbilang elit. Itu salah satu sebabnya ketika ingin melanjutka SMP saya tidak boleh masuk ke SMP Negeri dan tetap tinggal disitu karena yaa memang Bahasa Mandarin tersebut sangat penting, selain bahasa Inggris. Sampai pernah suatu saat saya mengajari nenek saya (re: mbok) untuk bisa belajar Bahasa Mandarin walaupun dasar-dasar saja.
Semakin lama saya semakin terinspirasi oleh sosok itu. Lain ketika saya berada di bangku kelas satu smp. Sosok guru keyboard yang dengan sabar mengajari jari saya agar ketak-ketik dengan lancar diatas toots. Hampir 2 tahun saya menjalani proses tersebut sampai akhirnya bosan dan kemudian mandek di tengah jalan yang seharusnya selesai empat tahun lamanya. Sekarang jari-jari ini kaku, bahkan malu untuk berkutak-kutik ketika melihat jajaran putih hitam. Mungkin itu belum bakat atau yang secara singkat saya menyerah begitu saja.
Lain halnya semasa SMA, sekolah saya termasuk unggulan di daerah saya. Merasa tidak puas ketika keinginan saya bertolakbelakang dengan keadaan, ya beginilah, dinilai belum sanggup untuk menjalani kegiatan tersebut membuat saya terpaksa masuk di tempat pendidikan yang cukup dekat dengan kediaman saya. Jika memilih saya lebih suka agak sedikit jauh dari rumah karena gunanya yaa untuk melatih keberanian untuk pulang dengan angkot dan juga untuk melihat daerah-daerah yang tidak monoton. Memang Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Di sekolah ini lagi-lagi sosok itu memotivasi saya untuk membuat cita-cita saya benar-benar menjadi sebuah kenyataan. Tidak ada salahnya ketika saya semakin bersemangat apalagi waktu itu mendekati pelaksanaan Ujian Nasional. Hasilnya memang tidak nihil, hasilnya hebat, dasyhat, super. Nama saya tersebutkan diurutan pertama ketika pembacaan the best score, dengan kebaya merah marun saya memegang medali dan sertifikat dengan penuh bangga. Itu berkat asupan semangat dari sosok itu.
Dan pada akhirnya ketika hari pengumuman itu datang, saya masuk dalam FE di duaUniversitas Negeri di Pulau Jawa yakni Semarang dan Jogja. Memang jurusan yang saya minati karena bisa mewujudkan cita-cita saya. Sebelumnya saya telah gagal berkali-kali dalam jurusan akuntansi di beberapa Perguruan Tinggi Negeri besar yang ada di Depok dan Yogyakarta dalam jalur apapun. Nama saya juga sempat muncul di salah satu PTS di daerah Grogol, Jakarta dengan jurusan akuntansi, tapi dengan mudahnya saya cancel walaupun ketika itu sudah kena cash. Saya adalah tipe orang yang memiliki keinginan besar dan berharap keberuntungan itu datang, tetapi memang itu belum saatnya. Nanti ketika memang saat itu tiba entah melanjutkan pendidikan S2 atau S3 sekalipun. Ketika orang tua saya memiliki rasa kasihan ketika saya belum mendapatkan yang saya inginkan, tetapi tidak bagi saya, terus berusaha jika kesempatan itu masih ada. Sampai pada akhirnya saya harus memilih untuk meninggalkan kota tempat saya dilahirkan dan menjadi seorang mahasiswi perantauan di kota pelajar. Ini impian saya, kuliah di kota pelajar dan menjadi anak kost, ini jalan saya untuk menjadikan cita-cita terwujud. Saya sudah boyongan ke Jogja dan sempat beberapa bulan tidur di kasur yang sempit, kempes dan ruangan yang tidak ber-AC. Sempat juga merasakan indahnya ospek ketika bulan puasa dan saya juga ikut-ikutan puasa yang mirisnya tanpa sahur. Cita-cita pertama saya yang nantinya saya akan lebih tertarik untuk malah mengajar mahasiswa bukan seumuran anak kecil bahkan lebih.
Tetapi semua itu, hanya sebatas waktu beberapa bulan saja. Berkenala untuk mengenal daerah orang lain belum sempat dikuasai sepenuhnya, hanya beberapa tempat saja. Saya harus pergi meninggalkan kamar kost yang imut dengan Ibu Sri si penjaga rumah yang setia ketika melihat pemberitahuan tes tahap 4 oleh sebuah lembaga pendidikan. Saya sebenarnya bingung, sempat menangis, menyesal dan sempat ada perlawanan dalam diri saya. Ketika saya sudah enjoy dan mampu melupakan kenyamanan di kota kelahiran saya, saya malah dihadapkan kepada sebuah pilihan yang sulit. Ya, ini sebagai akibat dari mencari sebuah peruntungan yang lebih baik. Mungkin doa orang tua juga yang membawa saya sampai dengan tahap tes ini. Ketika itu, saya sudah dianggap dewasa dan diberikan hak otonom bagi diri saya untuk memutuskan bagaimana kelanjutan dari sebuah tahapan yang harus saya lewati. Semasa SMP pernah membayangkan saya menjalani proses pendidikan dalam boarding school dan berseragam, tapi itu cuma pikiran sesaat dan tidak pernah saya pikirkan dalam benak saya sekalipun, hanya satu kali, saya ingat betul. Dan pada akhirnya this is my choice untuk dikukuhkan bersama dua ribu orang lainnya dari 34 provinsi yang ada di negara kita ini. Mohon doa agar kelak saya bisa menjalankan profesi saya dengan baik walaupun tidak pernah terbayangkan saya akan menginjakan kaki di lembaga seperti ini. Yang saya ingin katakan ya sangat bersyukur dan semoga pilihan ini adalah pilihan terbaik yang nantinya bisa membanggakan diri, orangtua, rakyat dan negara. Bangga ketika sudah bergabung dalam lembaga ini, tidak pernah terbayangkan untuk satu rasa, satu tempat, satu pengabdia bersama orang-orang terbaik bangsa.
#keepspirit

well, selamat menjalani pilihan walau tidak sesuai dengan keinginan.
BalasHapussiap kang. izin kang.
BalasHapussantai aja deh git kalo di blog mah hhe
Hapussiap iya kang. terimakasih kang, izin kang.
Hapus